Budget Murah ke Bangkok

Waaah, dua tahun aku gak sharing di sini. Ya, gak tau juga sih apa yang harus ditulis di sini. Tulisan ini juga mendadak aku tulis karena baru keingetan aja soal budget aku ke Bangkok kemarin yang super duper murah. *menurut aku*

Aku ke Bangkok untuk keperluan konser. Konser Harry Styles yang digelar di Rajamangala National Stadium, Bangkok, pada tanggal 11 Maret 2023. Bekal aku ke Bangkok ini bener-bener modal nekat, karena aku sama temanku ini lagi gak ada duit sama sekali. Ditambah kita di Bangkok itu selama lima hari. Dari tanggal 9 Maret sampai 12 Maret.

Total pengeluaran aku ke Bangkok termasuk tiket konser Harry hampir 10jt. Kalau tidak termasuk tiket Harry, ya dikurang aja 2,850.

Definisi hidup lagi seret-seretnya, malah ke Bangkok.

Hampir 10jt tuh untuk pengeluaran apa aja sih? Dan worth it gak? 

Worth it banget!

Wat Arun

Pertama pengeluaran yang paling besar itu tiket pesawat pp. Kita mepet beli tiket pesawatnya, alhasil susah banget buat cari tiket yang murah. Ditambah ada konser 'kan, pasti mereka memanfaatkan keadaan. Ini aja kita hoki banget dapet tiket dua juta sekali berangkat pakai maskapai Malaysia Airlines. Dikasih makan dan bagasi 20kg! Meski transit dulu, TAPI TETEP OK BANGET GAK SIH??? Pulang pun dengan harga yang sama. Jadi ya untuk pp kita ngeluarin kurang lebih 4 juta-an. 

Ini kita beli tiket pesawat tuh seminggu sebelum berangkat. Bener-bener mepet banget dan sangat tidak disarankan. Karena gak melulu dapet tiket murah dan menguntungkan seperti yang aku dapet. Jadi, ya, kalau mau liburan pinter-pinter milih tanggal sih menurut aku. Kalau ini bukan karena Harry juga gak akan senekat ini wkwkwk.

Transit di Malaysia juga gak terlalu lama. Pas buat kita bengong dulu di Bandara Kuala Lumpur. Untuk berangkat kita transit 2 jam, untuk pulang kita transit 8 jam hahaha. Tapi kalau pulang kita dapet yang flight malam. Jadi sampai Kuala Lumpur itu tengah malam, dan flight lagi besok pagi. Jadi kita bener-bener tidur selama transit. Transit 8 jam pun gak kerasa karena dipakai tidur. Jadi sampai Cengkareng itu tanggal 13 Maret karena transit, dan keluar dari Bangkok jam 9 malam kurang. 

Pengeluaran kedua adalah akomodasi. Aku pesan hotel bintang tiga di daerah Huai Khwang. Itu agak jauh dari pusat kota / Pratunam. Karena alasan yang sama, kita cari murah. Kalau hotel sekitaran Pratunam udah pasti mahal. Ditambah biar agak dekat dengan lokasi konser Harry yang berada di daerah Bang Kapi. Kita kedapetan hotel 5d4n dengan total 800rb dikurang voucher diskon Traveloka. Jadi total hotel 5 hari dibagi dua itu kurang dari 400rb. OKE GAK? OKE BANGET BUAT YANG MAU NYARI MURAH. Meski fasilitas hotelnya tidak se-wah bintang tiga lainnya. Ya, dengan harga 400rb udah nginep 4 malem masa minta yang ekstra.. Tapi cuma kekurangan tontonan aja sih. Televisi yang mereka sediakan itu televisi lokal tanpa subtitle. Yaaaa, gimana kita pahamnya cobaaaa...

Sebetulnya ada kolam renangnya, tapi kemarin lagi gak bisa dipakai untuk umum. Gak tahu juga kenapa. Fasilitas yang lain oke sih, AC jalan; kasur enak; kamar luas; parkiran luas; lingkungan sekitar hotel enak banyak jajanan; deket Sevel dan Family Mart; 1 km ke Stasiun MRT; terus tiap malem kita dikasih tisu baru dan air minum baru! Mereka selalu taruh di depan pintu. Sementara untuk kekurangannya, air panasnya kemarin sempet rusak dan cuma jalan di hari pertama kita sampai Bangkok. Sisanya kita mandi pakai air dingin.

Nama hotelnya All Together Suite. Aku kedapetan di lantai 4. Dan kayaknya semua kamar di sini dapet fasilitas balkon. Balkonnya juga cukup luas. 

Jadi untuk rating keseluruhan hotel ini dari aku 8/10.

Pengeluaran ketiga adalah bekal jajan di sana. Selama lima hari aku di Bangkok, aku cuma ngeluarin 1,8! Bukan, bukan cuma karena di Bangkok murah-murah, tapi kitanya juga yang gak ada duit. Duit kita menipis banget. Makanya kita gak aneh-aneh selama di sana. Gak open jastip juga karena keterbatasan duit.

Awal sampe tuh kita masih belum ngerti soal transportasi umum Bangkok. Jadi dari Bandara Suvarnabhumi ke Huai Khwang kita pake Grabcar. Kalau gak salah 300-an baht deh? 

*1 baht = Rp.430 (tergantung kurs karena suka berubah-ubah)

Padahal ada yang versi murahnya yaitu pake Airport Link. 

Kita sampai hotel sekitar jam 9 malam. Dan gak ke mana-mana selain jajan ke Family Mart. Masih baru, masih belum ngerti. Meski hari-hari sebelumnya bahkan satu bulan sebelum keberangkatan aku udah bikin planning itinerary tapi tetep aja di hari pertama kita sampai Bangkok masih culture shock. Belajar mengenal situasi dulu.

Untuk di hari kedua, kita mutusin buat pergi pakai MRT. Di Bangkok itu untuk turis atau yang bukan warga lokal pakai semacam koin penny buat naik MRT. Di awal Stasiun di-tap dan di akhir Stasiun dimasukin kayak celengan gitu. Untuk harga, kemarin aku dari Huai Khwang ke Itsaraphap 22 baht, melewatkan 10 Stasiun. Tapi kalau untuk MRT gak bakal lebih dari 50 baht. Paling mentok 40 baht dari tujuan awal sampai tujuan paling akhir. Karena selama aku di Bangkok, aku selalu bayar kurang lebih 20-an baht dan gak pernah sampai 30 baht. 

Di Bangkok selain ada MRT, ada BTS Sky Train dan Airport Link yang tadi aku bilang. Kemarin kita gak naik BTS Sky Train karena gak ada destinasi dari kita yang menggunakan transportasi umum tersebut. Ya, karena aku gak mencoba BTS Sky Train, aku mohon maaf untuk gak memberi informasi tentang BTS Sky Train. Semoga aku punya kesempatan buat balik lagi ke Bangkok dan mencoba BTS Sky Train!

Oh, ya, selain rute, yang membedakan MRT dan BTS Sky Train adalah letak posisi mereka. BTS Sky Train ada di atas dan bisa melihat pemandangan kota, kalau MRT di bawah tanah dan cuma bisa liat tembok selama keretanya jalan. 

Lanjut lagii.. 

Jadi selama di sana kita cuma pakai MRT, bus kota, dan Airport Link. Aku lebih sering pakai MRT karena udah ngerti rute dan lebih mudah untuk dihafal. Kalau bus kota aku masih belum paham rutenya. Jadi mungkin untuk bus kota aku cuma bisa ngasih informasi kalau sistem mereka masih pakai kernet. Sebutin aja halte tujuan kalian, dan kernet tersebut akan menyebutkan harganya. Setelah kalian ngasih uang baht kalian, mereka akan memberikan karcis. Untuk turun, cukup tekan bel yang ada di sana. Biasanya bel tersebut ada di tengah-tengah bis, di depan dekat supir, atau di belakang. Kayak bus kota di Korea Selatan kalau kalian suka nonton drakor.

Dan for your information bus kota itu gak akan berhenti di tiap halte kalau tidak ada orang di halte itu atau tidak ada yang menekan bel. Jadi pastikan kalian peka sama situasi dan gak banyak main gadget atau ngobrol sama teman. Karena kalau nyasar bisa beda cerita kayak aku kemarin nyasar karena salah bus wkwkwk.

Untuk Airport Link harganya sedikit lebih mahal dari MRT, dan jaraknya lebih pendek karena Airport Link menghubungkan Bandara Suvarnabhumi sampai Terminal Phaya Thai. Aku naik dari Makkasan sampai Suvarnabhumi, melewatkan 4 Stasiun, bayar dengan harga 35 baht. Buat yang ingin naik Airport Link tapi naik MRT dulu sebelumnya bisa turun di Stasiun Petchaburi untuk transit. Di sana ada rute tersendiri untuk ke Stasiun Makkasan. Udah mereka fasilitasi buat siapapun yang transit dari Petchaburi ke Makkasan.

Selama berjalan dari Petchaburi sampai Makkasan banyak yang jual makanan, dijamin bisa beli-beli dulu sambil nunggu keretanya datang.

Beli tiketnya bisa on the spot. Di sana ada mesinnya sendiri khusus. Jangan lupa untuk ubah bahasanya ke bahasa Inggris. Model mesinnya mirip-mirip sama mesinnya McD. Untuk bayar, tinggal masukkan uangnya dalam jumlah yang pas. Gakpapa terpisah atau recehan juga. Mesin itu tetep nerima, asal nominalnya pas gak kurang dan gak lebih.

Sama kayak MRT, Airport Link pakai koin penny juga. Yang harus kalian tap di awal Stasiun dan dimasukkan di akhir Stasiun.

Untuk destinasi-destinasi wisata di Bangkok sejujurnya aku gak ke banyak tempat waktu di sana. Karena pikiran aku cuma konser-konser-konser. Gak mikirin ke mana-mananya. Cuma yang penting ke tempat yang ada di Bangkok aja. Jadi aku cuma ke Wat Arun, Pratunam Market, Mall Platinum, Chatuchak Night Market, dan Mako Museum. Sedikit banget, ya? :')

Di Bangkok ada sungai panjang yang memisahkan antara Wat Arun dan Wat Pho. Dan Wat Arun berada di seberangnya (dari arah Huai Khwang). Nah, untuk yang ke Wat Arun pakai MRT, kalian turun di Stasiun Itsaraphap. Jarak dari Stasiun ke Wat Arun sekitar 700 meter. Jarak yang nanggung menurut aku. Dan di situ lah kali pertama aku naik Grab motor di Bangkok.

Culture shock pertama: helm itu gak wajib :'). Rata-rata di sana kalau naik Grab motor driver-nya jarang banget ngasih helm. Bahkan di tengah kota pun, banyak pengendara yang berkendara tanpa helm. Oh, ya, intermezzo sedikit, ada satu life hack dari aku hahaha. Kalau kalian malas naik MRT atau bus kota, kalian bisa pesan Grab motor lalu bonceng tiga. Tinggal nambahin aja 10 atau 15 baht dari nominal aslinya. Itu cara aku kemarin dari hotel ke Stasiun Huai Khwang. Yang harusnya kita bayar 50 baht, jadi 65 baht dengan bonceng tiga. Dan ini worth itttt banget karena mereka gak keberatan sama sekali.

Lanjut lagiii...

Karena jaraknya yang nanggung, aku naik Grab dari Stasiun sampai Wat Arun. Tiket masuk Wat Arun cuma 100 baht. Plus dikasih air minum. Dan tidak disarankan buat pakai baju yang terbuka di sini. Kalau udah terlanjur pakai baju mini, mereka bakal ngasih kain untuk menutupi bagian tubuh yang terbuka.

Alasannya, karena kan ini kuil Buddha, ya. Jadi harus menghormati apapun. Termasuk cara berpakaian. 

Di Wat Arun juga bisa menyewa pakaian adat Thailand untuk kepentingan foto. Untuk harganya aku kurang tahu karena kemarin kita gak nyewa pakaian adatnya. Mereka juga menyediakan jasa foto. Mungkin harga itu termasuk pakaian sama foto kali ya..

Karena Wat Arun yang berseberangan sama Wat Pho, kita naik kapal untuk nyebrang. Jaraknya pendek banget dan harganya ini lucu, cuma 5 baht. Beberapa ada yang dapet tempat duduk, beberapa ada yang berdiri. Ya, Alhamdulillah kemarin kedapetan tempat duduk.

Tuk-Tuk di samping Wat Pho

Niatnya kita dari Wat Pho ke Pratunam itu pakai Tuk-Tuk, tapi hampir aja kena scam. Jadi gak jadi. Aku lebih milih uang agak lebih untuk Grab motor lagi dibanding Tuk-Tuk yang mungkin bisa lebih murah tapi kena tipu muslihat driver-nya. Buat kalian yang ada budget lebih dan ingin punya experience naik Tuk-Tuk bisa banget sih naik. Aku juga sebenernya pengen banget. Tapi ya, masih takut. Mungkin lain kali.

Naik Grab seinget aku, aku bayar kurang dari 80 baht. Pokoknya sebenernya harganya jauh beda sama Tuk-Tuk kalau lagi hoki. Cuma, ya, gakpapa lah ya. Lumayan motoran di Bangkok. Dan kali ini aku motorannya pakai helm! Lucu banget ngelewatin jalanan-jalanan di Bangkok. 

Kisaran harga baju di Pratunam dan Platinum gak jauh beda sama Indonesia. Kalau lagi beruntung, dapet yang murah. Cuma aku gak beli baju banyak di sini karena modelnya yang biasa aja. Di sini juga banyak banget yang live. Entah live Tiktok atau Shopee atau Instagram. 

Spoiler: kalau buat jastip baju lebih baik di Chatuchak daripada di Pratunam.

Makanan di sini juga selayaknya Mall pada umumnya. Cuma kalau masuk ke Pratunam Market lumayan nemu makanan yang unik-unik. Aku gak mau ambil risiko, jadi main aman aja. Beli makanannya McD. Lumayan nyobain McD-nya Bangkok. Sausnya manis. Seperti saus-saus Bangkok yang dijual di Indimart.

Kalau kalian suka estetika, museum art, dan ketenangan jawabannya ada di Mako Museum. Harga masuknya lumayan pricey, yaitu 250 baht. Sayangnya kita ke sana terlalu sore jadi sebetulnya kita belum terlalu puas buat explore lebih dalam. Mereka tutup jam 6 sore. Kalau kalian mau ke Mako Museum, naik MRT dari mana pun dan turun di Stasiun Chatuchak Park. Terus lanjut naik bus kota nomer 510. Pulang pun rute-nya sama.

Hati-hati di Halte Chatuchak Park itu rame banget, banyak bus kota yang lewat dan berhenti di situ. Tapi jangan khawatir, karena tetap ada monitor pemberitahuan pukul berapa bus itu lewat. 

Aku pengen banget explore Chatuchak lebih jauh kalau bisa ke Bangkok lagi. Karena Chatuchak surganya turis. Banyak banget baju yang unik-unik dan identik dengan Thailand banget. Harganya juga murah. Makanannya beragam. Kemarin aku makan sushi 5 baht, hahaha lucu banget sih beli sushi harganya di bawah 3rb rupiah. 

Kalian bakal nemu banyak hal aneh di Chatuchak. Aku menyesal banget ke Chatuchak-nya malem gak dari siang. Jadi cuma sebentar explore-nya. Pengen banget balik lagi ke Bangkok.

Notes khusus dari aku: karena di Bangkok itu bisa tarik tunai di ATM kalau kartu ATM kalian ada mastercard-nya (bank apapun yang ada tanda mastercard), jadi aku saranin kalau kalian mau tarik tunai, tarik tunai sekali aja. KARENA BIAYA ADMINNYA MAHAL BANGET. 124rb rupiah untuk sekali tarik. 124rb hanya untuk biaya admin. Dan aku kemarin tarik tunai tiga kali :'). Memang lebih enak udah nyiapin uang dari Indonesia, lebih praktis, tapi ini jaga-jaga kalau ternyata kalian butuh budget lebih, tarik tunai jawabannya. Tapi cukup sekali aja. 

Yaah, aku pikir soal budget murah aku di Bangkok kemarin cukup segitu. Semoga penjelasan aku mudah dimengerti buat kalian atau siapapun yang mau ke Bangkok. Kalau kalian mau ajak aku ke Bangkok juga boleh hehehe. <3

Naik MRT.

🧡💫


Setelah MRT 2 tahun diresmikan akhirnya aku bisa merasakan jugaaa!!! /senang/

Satu kata, seruuuu!

Kalau ditanya mau lagi atau nggak, jawabannya tentu aja iya! Ya, kali gak nyobain lagi? Mana waktu kemarin aku rutenya pendek, jadi gak kerasa.

Ini bermula waktu aku lagi di Jakarta, dan aku punya waktu satu minggu di sana. Karena jadwalku dari hari Senin sampai Kamis diisi sama kuliah dan jagain ponakan, akhirnya hari Jum'at aku minta kakak kelas aku waktu SMA–Zais–untuk nemenin aku naik MRT. Karena kebetulan dia lagi di Jakarta dalam waktu yang lama. Dia juga udah pernah naik MRT, jadi aku gak bakal keliatan norak - norak amat naiknya.

Aku berangkat jam sembilan dari Pondok Kelapa, dan ketemu Zais di Pancoran Barat. Kebayang 'kan jauhnya? Aku naik Busway rute Pondok Kelapa - BKN, turun di BKN, lanjut naik arah Harmoni terus turun di Cawang UKI, naik Busway arah Pluit, dan turun di Pancoran Barat. Ya, lumayan aku juga agak rindu naik Busway jadi jaraknya jauh juga aku gak masalah, hahaha.

Pertama kali aku ketemu Zais, aku langsung minta minumannya karena haus banget brouuu, mana panas lagi. Kita langsung berangkat ke Blok M, karena rencana naik MRT-nya itu dari Blok M sampai Bundaran HI. Dan karena waktu itu hari Jum'at, jadi aku nemenin Zais jum'atan dulu. Tapi dia gak jadi jum'atan HAHAHA astaghfirullah kafir. 

Eh, tapi bukan sengaja. Itu karena di masjidnya diwajibkan pakai sejadah, sementara Zais gak bawa sejadah. Ya... ya, kali 'kan nenteng sejadah kemana - mana? Alhasil, dia bolos Jum'atan (lagi). Iya, dia udah dua minggu gak jumatan.

Tobat, lah, tobat wahai sahabat.

Ya, karena Zais gak jum'atan, kita makan mie ayam dulu di daerah Blok M. Lumayan, mie ayam baso dengan porsi banyak cuma seharga 15.000.

Setelah makan, kita mulai jalan ke stasiun jam setengah satu. Nge-tap kartu sebagai tanda kalau kita udah bayar. Jangan lupa cek saldo dulu, ya!

📍Stasiun Blok M 

Nunggu beberapa menit, keretanya sampai! Dan, whuuuushh ngebut xixixi. Orang - orang tidak excited seperti aku. Ya, mungkin bagi mereka udah biasa kali, ya.

Setelah dari Stasiun ASEAN, kita masuk ke bawah tanah. Seru banget kayak di luar negeri. 

Berasa udah pernah aje lu, Ra.

Akhirnya setelah dari Stasiun ASEAN, lanjut ke Stasiun Senayan, terus Stasiun Istora Mandiri, Bendungan Hilir, Setiabudhi Astra, Dukuh Atas, dan yang terakhir Bundaran HI!

Perjalanan dari Stasiun Dukuh Atas sampai Bundaran HI sepi banget di gerbongnya. Cuma ada aku, Zais, dan dua orang lain di ujung sana. 

Jangan lupa jaga jarak!!

Aku kira setelah sampai di Bundaran HI, kita langsung balik lagi ke Blok M. Ternyata nggak, Zais ngajak keluar stasiun dulu dan WOW!, Jakarta panas sekali, ya. Ya, iya, lah Rara stupit, gimana gak panas orang itu jam setengah dua siang????

Sewaktu kita udah di luar, kita bingung mau kemana. Tiba - tiba Zais liat banyak sepeda terparkir rapi. Niatnya mau naik sepeda, iya jam setengah dua siang. Tapi gak jadi, selain harus pakai aplikasi Gowes, mereka juga menyuruh kita untuk top up minimal 25.000. Sementara sepeda disewakannya dengan harga 3.000/15 menit. Aku merasa kalau itu terlalu banyak, ya.. karena aku 'kan gak menetap di Jakarta, jadi kalau saldonya masih ada tuh kayak sayang aja gitu, wkwk.


Akhirnya sadly kita gak jadi sepedaan. Padahal aku yakin pasti bakal makin seru banget kalau sepedaan. 

Panassshhh🌞🌞

Jalan sebentar, lalu kita duduk berhadapan langsung sama Bundaran HI dan Hotel Indonesia. Hotel Indonesia tempatnya One Direction nginep waktu mereka konser di Jakarta tahun 2015. Ya, aku gak ikut karena masih piyik dan belum ngerti harus gimana. 


Saat itu matahari lagi terik - teriknya, bikin muka aku jadi makin basah sama keringat. Kebetulan aku liat bapak - bapak jual tisu keliling, dan aku beli satu yang seharga 5.000 untuk ngelap muka yang basah banget.

Karena gak tahan sama panasnya Jakarta, aku sama Zais memutuskan untuk balik lagi ke Stasiun untuk kembali ke Blok M. Rencana kita mau ke Pluit buat beli seblak hits. Sebenernya aku gak begitu tertarik sama seblaknya, cuma karena Diaz mau nyoba aku jadi penasaran. Akhirnya aku kesana terlebih dahulu dengan niat memberi review padanya.

Haus banget dipikir - pikir, ya. Jalan keliling di Blok M, terus naik MRT, jalan sebentar di daerah Bundaran HI yang panasnya subhanallah bikin tenggorokan aku kering minta untuk disiram. Aku dan Zais pun beli minum menggunakan vending machine, "haus, ih." Aku berucap setelah sampai di Stasiun. "Mau beli minum dulu gak? Cobain itu, yuk, apa namanya.. vending machine." Jawab Zais, aku mengangguk menyetujui. "Ayo, di kampus aku ada gituan jadi bisa pakenya, gak kampung - kampung amat." Akhirnya kita sama - sama beli leminerale. Biar ada manis - manisnya gitu kayak aku. :D

Tap! Kita bisa langsung naik keretanya, deh. Oh, iya, harga MRT dari Blok M - Bundaran HI itu 8.000, ya, teman - teman. Kalau sesuai rute dari ujung ke ujung alias dari Bundaran HI sampai Lebak Bulus itu 14.000.

Balik lagi, deh, ke Blok M. Ambil motor, langsung cus ke Pluit. Yeay! Seblak I'm comingg!!!

Jakarta, tadi panasnya kayak kebakaran hutan tiba - tiba didatangi hujan. Hujannya betulan, bukan cuma gerimis manis. Tapi deres. Mana gak bawa jas hujan. Niatnya mau diterobos aja, tapi karena volume air yang kian menambah, kita berteduh di Senayan JCC. Cukup lama kita berteduh, kayaknya ada, deh, kita nunggu 30 menit-an?

Lalu kita gak jadi buat beli seblak di Pluit karena terlalu jauh. Takutnya nanti hujan lagi. Dan kita mutusin buat beli seblaknya di Tanjung Duren. Seblaknya tetep sama, cuma beda lokasi aja.

Dan, yeay!!! Beli seblak!

Jujur aja, harganya cukup mahal bagi aku untuk ukuran semangkuk 'seblak'. Karena yang aku tau, seblak seharga 15.000 aja udah mahal banget. Aku beli empat macem, dengan harga 30.000, Zais juga sama empat macem cuma Zais total 36.000. Plus minum es teh manis 5.000. Total yang tadi belum termasuk minum.

Seblak 30.000 :D

Mahal, ya? :D

Aku aja kaget.

Ya... aku penasaran karena di-review Ria SW, sih.

Mana aku pedesnya terlalu banyak. Jadi gak habis karena gak kuat.

Ah, 30.000-ku </3

Dengan ini berat aku nyatakan bahwa, seblak tersebut tidak rekomen bagi kalian orang Bandung yang mau nyoba seblak di Jakarta.

Abis makan seblak, kita pulang. Karena jam menunjukkan pukul empat sore. Zais nganter aku sampai Halte Slipi, dan aku pulang dengan rute busway yang sama pada saat berangkat.

And, YEAAYYYY!!!! Trip singkatku selesaaiii!!! Ah, aku senang sekali. Aku anggep aja naik MRT ini adalah kadoku tahun ini. Simple sekali, ya? Ah, aku memang anaknya sederhana seperti rumah makan Padang.

Kalau dari kalian ingin naik MRT, tolong dengan sangat ajak aku, ya. Atau kalau kalian mau ke Dufan... hehehehe. Aku lagi bm banget ke Dufan sama ke Pantai.

Ya, banyak mau.

Ah... sudah, deh, blog-ku tentang naik MRT. Semoga informasi yang aku sampaikan bisa dipahami dengan mudah, ya!

Rarastyles pamit dulu. Xixixi.

Stay safe, stay healthy, and be happy everyone.❤️

Pernah Mati Dalam Waktu 5 Detik.

Waktu bulan Desember tahun 2016 lalu, aku mengikuti Pendidikan dan Latihan Dasar GEPALA. Salah satu ekstrakurikuler yang aku ikuti sewaktu aku SMA. Dari kecil aku paling tidak suka jalan kaki dalam waktu yang lama. Dan aku juga tidak suka membawa beban berat. Sebuah kesalahan karena aku mengikuti kegiatan yang membutuhkan jalan kaki yang banyak serta membawa bawaan yang cukup berat.
 
Karena hal itu, di hari pertama aku mengikuti Diklatsar GEPALA, selama perjalanan aku selalu terjatuh pingsan karena fisik dan mentalku benar - benar diuji. Membawa tas carrier dengan beban 18kg, dan menempuh perjalanan sepanjang 10km. Mungkin karena membawa beban banyak dan menjadi siswa yang serba salah saat itu, membuat fisik dan mental lemah aku tidak kuat menahannya. Ditambah teriknya matahari membuat perjalanan semakin menyenangkan. 
Memulai perjalanan pada pukul 8 pagi, sampai ke Basecamp pukul 5 sore. Tubuh ini sudah terasa sangat lelah, padahal ini masih hari pertama mengikuti Diklatsar.
Keesokan harinya, dalam agenda setiap pagi dan malam semua siswa dicek kesehatan oleh para panitia untuk memeriksa seluruh kesehatan pada tubuh siswa. Pada pagi itu, aku tidak tahu apa yang terjadi padaku tetapi tim medis tidak merasakan adanya denyut nadi pada tubuhku dalam kurun waktu 5 detik. Mungkin tubuhku terlalu drop karena ini kali pertama aku melakukan perjalanan yang sangat berat. Oleh karena itu, hari kedua karena tujuan kami semua itu naik ke puncak Gunung Burangrang, aku salah satu siswa yang tidak ikut karena tim medis mengatakan bahwa tubuhku tidak bisa menahannya. Alhasil, aku dibawa ke bawah oleh salah satu panitia dan berdiam diri di dalam mobil medis.
Sorenya, aku dan beberapa panita pindah dari Cikawari ke Legok Haji. Karena siswa dan panitia yang dari puncak segera turun, aku akan bertemu beberapa temanku lagi setelah seharian tidak bertemu.
Lalu aku dan dua anggota tetap berjalan dari parkiran menuju Basecamp. Jantungku berdegup cepat karena aku takut. Tidak ada kakak kelas yang menemaniku. Hanya dua alumni lama yang mengantarkanku sampai ke Basecamp.
Akhirnya pukul 7 malam, aku bertemu dengan teman - temanku. Wajah lelah mereka sangat terlihat karena mereka baru saja naik dan turun dari puncak.

Jadi itu lah kejadian yang tidak pernah aku duga selama hidupku. Apa jadinya jika denyut nadiku terus hilang tidak berdenyut kembali? Hiii.. mengerikan.

Worth it 'kah ke Kota Tua Sendirian?

Berkunjung ke suatu tempat wisata memang lebih enak jika ditemani seorang teman. Tapi berpergian dengan seorang diri pun tak masalah. Justru dengan berpergian dengan seorang diri bisa mengenal diri kita lebih dekat.
Di umur yang baru menginjak 19 tahun ini aku terbiasa pergi ke Jakarta seorang diri. Menaiki kereta api, turun di Stasiun Gambir atau Pasar Senen. Terkadang aku menggunakan kereta argo parahyangan, tak jarang pula dengan kereta serayu.

Stasiun Pasar Senen
Saat itu aku tidak tahu harus pergi kemana karena tidak ada rencana untuk main. Akhirnya karena rasa gabut melanda, aku memiliki pikiran untuk kembali menuju Kota tua. Sejujurnya aku pernah memiliki rencana untuk ke Kota tua, tetapi hal itu tidak terwujud karena aku tersesat disebabkan salah naik Busway. Yang harusnya menaiki Busway rute Monas - Kota, aku malah menaiki Busway jurusan Kota - Kampung Melayu dengan arah yang berlawanan. Memang jika berpergian sendirian itu benar - benar harus teliti.
Akhirnya saat itu aku pergi dari Mampang, Jakarta Selatan menaiki Busway rute Ragunan - Monas, yang ke arah monas. Ketika sudah sampai di Monas, cari Busway dengan rute Blok M - Kota yang mengarah ke Kota Tua. Saat sudah sampai di Halte Kota, ada jalan ke arah bawah yang bisa menembus ke Stasiun Kota tua atau ke Kota tua-nya. Jangan sampai salah. Perhatikan benar - benar petunjuk arahnya. Jika ke arah Kota tua, akan bertuliskan Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri, dan Kota tua. Berjalan ke arah sana. Nanti setelah keluar dari sana, kalian menemukan Museum Bank Indonesia yang tidak jauh dari situ. Kalian cukup lurus saja, nanti sudah sampai pada Kota Tua.
Melakukan suatu hal selalu ada plus dan minusnya. Begitu juga saat aku pergi ke Kota Tua seorang diri. Plusnya, kita jadi lebih leluasa untuk meng-explore suatu tempat, tidak perlu berdebat untuk menentukan sebuah pilihan, juga kita bisa memahami diri kita sendiri. Minusnya, ya mungkin bagi sebagian orang yang senang bersama banyak orang untuk mengunjungi suatu tempat memang lah sulit, tapi tidak ada salahnya jika kita mulai berinteraksi kepada orang asing. Mungkin memang selama perjalanan ini yang aku butuhkan berinteraksi dengan teman, agar tidak bosan selama perjalanan. Tapi itu juga tidak menutup kemungkinan untuk aku bersenang - senang dengan seorang diri.

Bagi kalian yang ingin berkunjung ke suatu tempat sendirian tapi masih ragu, coba saja sebelum itu kalian pergi ke Mall sendiri, mungkin bisa membantu. Lama kelamaan kalian akan terbiasa betapa nikmatnya berpergian seorang diri.

Jika Sedang Haid Bagaimana Bisa Mendaki Gunung Dengan Aman dan Nyaman?


Permasalahan utama perempuan yang ingin mendaki gunung selain karena izin, ialah karena sedang haid atau menstruasi. Bagaimana cara aku sebagai pendaki gunung perempuan mengatasi hal tersebut? Mungkin beberapa cara aku bisa kalian lakukan.

Sebelumnya perkenalkan nama aku Rahasti Herliapsari bisa dipanggil Rara. Perempuan berumur 18 tahun, yang nanti pada bulan Maret berumur 19 tahun. Aku bukan pendaki yang handal, yang sempurna, dan lagi pengetahuanku tentang gunung masih kurang. Tapi semoga saja dengan tips dari aku ini bisa membantu para wanita pendaki gunung di luar sana.

Dari kelas 10, awal mengikuti pendidikan latihan dasar dari ekstrakurikuler pecinta alam, ketika ingin berangkat mendaki aku selalu mengalami menstruasi. Dari mulai hari pertama sampai detik - detik terakhir sudah aku rasakan. Bagaimana aku bisa mendaki dalam keadaan sedang haid dengan aman?

Pertama, jangan lupa membawa alkohol 70%. Itu membantu untuk menghilangkan bau yang tak sedap.

Kedua, selalu siap sedia keresek atau plastik. Memang, membuang - buang plastik, tapi bagaimana lagi? Mungkin bisa juga menggunakan goodie bag atau tote bag, tapi aku pribadi belum pernah mencoba.

Ketiga, bawa pembalut satu bungkus untuk jaga - jaga. Selain untuk haid, pembalut bisa membantu kaki untuk menghindari dari luka atau lecet.

Keempat, bawa jamu untuk menstruasi seperti kiranti.

Lalu, bagaimana caranya? Ketika kalian mengganti, biasakan katakan permisi pada 'penghuni' sana. Setelah pembalut lama kalian lepas, langsung basuh dengan alkohol yang kalian bawa, setelah itu gulung, dan taruh ke dalam keresek. Jangan lupa, kemaluan kalian juga dicuci dengan air bersih atau tisu basah. Agar tetap higienis dan terhindar dari penyakit.

Bagaimana kalau ingin buang air kecil saat haid?
Saat buang air kecil, setelah kalian sudah selesai, siram air kencing kalian dengan alkohol atau air. Agar tidak terjadi hal - hal yang tidak diinginkan. Oh, iya, jangan lupakan etika ketika disana, ya. Selalu ucapkan permisi, jangan berkata yang aneh - aneh, dan selalu berdoa dimana pun kalian berada.

Bagaimana pula jika saat menstruasi, perut melilit ketika berada di gunung?
Sakit perut, sakit badan, memang menjadi masalah besar ketika sedang menstruasi. Jika hari pertama menstruasi adalah hari pertama kalian mendaki, usahakan membawa kiranti, dan selalu siapkan air panas.

Jika ditengah - tengah mendaki kalian mendadak menstruasi dan perut terasa sangat sakit, minum air hangat dan simpan air hangat di perut. Berikan kehangatan pada badan kalian. Lapisi dengan sleeping bag dan kalau membawa alumunium blanket, bisa digunakan. Intinya beri sesuatu yang hangat. Karena jika tidak itu bisa membuat tubuhmu sulit bergerak banyak. Jangan memaksakan diri untuk melanjutkan perjalanan jika itu membuat keadaan kalian semakin parah.

Jujur saja, selama aku menstruasi ketika berada di gunung aku tidak pernah merasakan sakit perut atau sakit badan. Dan memang yang paling ribet itu ketika ingin mengganti. Oh, iya, jangan lupa ketika sudah sampai basecamp, langsung kalian cuci pembalut kotor kalian, ya!

Mungkin itu tips dari aku, mohon maaf jika kurang jelas. Kalau butuh tambahan, bisa tanyakan pada aku pribadi.

Selamat melakukan pendakian untuk para pendaki wanita! Jangan takut lagi untuk mendaki saat haid, ya!!♡